Terkait Bencana Gempa Turki, Muhammadiyah Imbau Untuk Shalat Ghaib Bagi Umat Islam

Gempa bumi yang mengguncang Turki dengan kekuatan M 7,8 menewaskan ribuan orang. Muhammadiyah mengimbau umat Islam untuk melaksanakan salat gaib untuk korban gempa Turki.
“Sebagai bentuk dukungan spiritual, PP Muhammadiyah mengimbau umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah untuk memanjatkan doa dan salat gaib untuk mereka yang wafat,” kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam keterangannya, Selasa (7/2/2023).

Muhammadiyah menyampaikan dukacita mendalam atas gempa yang melanda Turki. Dia mendoakan bangsa Turki tetap tegar.

“Kepada bangsa dan pemerintah Turki, PP Muhammadiyah menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas musibah gempa yang menimbulkan ribuan korban, baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka. Sebagai bangsa yang besar, bangsa Turki akan tetap sabar dan tegar,” ujar Mu’ti.

Mu’ti menyampaikan, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) siap memberangkatkan relawan kesehatan dan kemanusiaan untuk membantu melakukan evaluasi dan layanan medis ke Turki. Selain itu, Lazismu menghimpun bantuan dana untuk disalurkan kepada masyarakat Turki yang terdampak gempa.

“Sekarang 16 personel Muhammadiyah standby buat Turkiye bersama Pemerintah RI. Tim terdiri atas 3 dokter emergency, 6 perawat, 2 bidan, 1 apoteker, 2 logistik, 1 Datin, dan 1 LO. Tim masih mungkin ditambah sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Mu’ti.

Sebelumnya diberitakan, gempa M 7,8 mengguncang Turki pada Senin (6/2) pagi, sekitar pukul 04.17 (01 17) GMT. Gempa tersebut berpusat di Nurdagi, Provinsi Gaziantep, Turki. Gempa tersebut juga dirasakan oleh sejumlah wilayah selain Turki.

Dilansir AFP, Selasa (7/2/2023) setidaknya 1.444 orang tewas pada Senin (6/2) di seluruh wilayah Suriah, kata pemerintah dan otoritas penyelamat setempat. Sementara di Turki, jumlah korban tewas bertambah menjadi 2.379 orang.

Dengan demikian, total korban tewas mencapai angka 3.823 orang. Hampir 14.500 orang terluka dan 4.900 bangunan rata dengan tanah akibat gempa.

Trending 🔥 :  Prediksi Jelang Laga Persija Jakarta Vs Barito Putera

Dalam kejadian kali ini, lempeng Arab bergerak ke utara dan bergesekan dengan lempeng Anatolia.

Gesekan dari lempeng-lempeng itu yang memicu gempa bumi sangat merusak di masa lalu.

Pada 13 Agustus 1822, pergerakan lempeng tersebut memicu gempa berkekuatan magnitudo 7,4 yang masih jauh lebih kecil dibandingkan gempa berkekuatan 7,8 pada Senin.

Meski demikian, gempa bumi yang terjadi pada abad ke-19 itu mengakibatkan kerusakan besar pada kota-kota di wilayah tersebut.

Sebanyak 7.000 kematian tercatat di kota Aleppo saja. Gempa susulan yang merusak pun berlanjut selama hampir satu tahun.

Setelah gempa pada Senin, sudah ada sejumlah gempa susulan. Para ahli memperkirakan trennya akan sama dengan gempa besar yang sebelumnya terjadi di wilayah ini.

Gempa bumi diukur menggunakan Skala Magnitudo Momen (Mw). Ini menggantikan ukuran skala Richter yang lebih dikenal, namun kini dianggap usang dan kurang akurat.

Angka kekuatan gempa mewakili kombinasi dari seberapa jauh garis patahan bergerak serta gaya yang menggerakknya.

Getaran gempa sebesar 2,5 atau lebih kecil biasanya tidak dapat dirasakan, tetapi dapat dideteksi menggunakan alat.