Sejumlah Tradisi Imlek Yang Kini Terlupakan

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Negara yang berbeda memiliki tradisi yang berbeda untuk merayakan Tahun Baru Imlek.
Ampao adalah salah satu tradisi yang telah dilakukan sejak lama untuk “uang keberuntungan”. Namun, ada tradisi Tahun Baru Imlek lainnya yang sebagian besar telah ditinggalkan di zaman modern.

Mengutip dari South China Morning Post (SCMP), berikut adalah lima tradisi Tahun Baru Imlek yang sebagian besar tidak dikenal masyarakat saat ini.

1. Menyambut dewa dapur

Legenda China mengatakan dewa dapur atau dewa kompor bakal mengunjungi setiap rumah tangga selama bulan ke-12 tahun lunar, konsep ini hampir mirip Sinterklas. Dewa tersebut kemudian akan kembali dan melaporkan ke Kaisar Giok di langit tentang apa yang telah dilakukan pemilik dapur itu pada sepanjang tahun lalu.

Dengan demikian, banyak pemilik rumah yang akan memberikan suguhan makanan manis seperti kue gula, panekuk goreng, hingga sup buncis sebelum malam tahun baru sebagai persembahan kepada dewa dapur, dengan harapan dia akan mengatakan hal-hal manis tentang mereka selama penilaian.

Tidak seperti Sinterklas yang tidak dikenal menerima ‘suap’, orang-orang akan menyambut dewa dapur kembali ke kompor mereka dengan membakar dupa dan uang kertas khusus. Namun ritual ini jarang terlihat kini sebab banyak keluarga telah pindah ke rumah modern yang tidak memiliki tungku memasak tradisional.

2. Membuka tahun dengan pesta petasan

Salah satu cerita rakyat atau mitologi Tiongkok yang terkenal adalah Nian atau Nian Shou yang digambarkan sebagai makhluk buas raksasa. Makhluk ini diceritakan hidup di dasar laut, gunung ataupun hutan.

Makhluk mitologi ini disebut gampang mengamuk di desa setiap tahun dan menghancurkan rumah, serta melahap penduduk desa. Berdasarkan cerita turun temurun itu Nian takut dengan suara keras.

Oleh sebab itu, penduduk sekitar menuangkan bubuk mesiu ke dalam batang bambu kering dan melemparkannya ke dalam api. Kebisingan yang dihasilkan saat mereka meledak dipercaya akan membuat Nian takut.

Belakangan ini, petasan masih digunakan untuk mengusir roh jahat. Serangkaian pesta petasan kecil dinyalakan pada tengah malam untuk melambangkan dering tahun lama, kemudian tiga petasan besar dinyalakan untuk menyambut tahun baru. Semakin keras mereka, semakin baik kemakmuran selama 12 bulan ke depan.

Trending 🔥 :  Game Online Penghasil Pulsa

Namun, penggunaan kembang api untuk kepentingan pribadi, termasuk petasan, telah dilarang di Hong Kong sejak 1960-an karena alasan keamanan. Hal yang sama berlaku untuk banyakkota besar di China.

3. Tidak keramas dua hari

Legenda juga menyebutkan bahwa pada dua hari pertama tahun baru Imlek dikenal sebagai hari kelahiran dewa air. Dalam kisah yang diceritakan, dewa air bakal tersinggung saat ada warga yang mencuci rambut dan pakaian mereka.

Selain itu, ada juga kepercayaan bahwa kata ‘rambut’ dalam bahasa Mandarin dan Kanton terdengar seperti ‘makmur’, sehingga mereka beranggapan mencuci rambut berarti menghilangkan kemakmuran untuk tahun yang akan datang. Akibatnya, banyak orang yang menunda aktivitas mencuci dan keramas selama dua hari tersebut.

Meski begitu, tradisi itu sebagian besar telah diabaikan, terutama di daerah subtropis di dunia seperti Hong Kong, yang udaranya sering lembab.

4. Tinggal di rumah pada hari ketiga

Hari ketiga tahun baru Imlek dikenal sebagai hari anjing merah. Menurut cerita rakyat Tiongkok, anjing merah adalah dewa kemarahan, yang berkeliaran pada hari ketiga tahun baru. Mereka yang bertemu dengannya dijamin akan bernasib buruk.

Seakan itu belum cukup, propaganda anti-anjing, ‘scarlet dog’ berima dengan ‘scarlet mouth’, yang artinya bertengkar dengan keluarga dan tetangga. Karena itu, banyak yang memilih tinggal di rumah dan tidak mengunjungi atau menerima orang lain untuk menghindari pertemuan yang tidak disengaja dengan anjing merah.

5. Tak boleh pel lantai

Sebagian warga Tiongkok juga percaya bahwa mereka tidak boleh membersihkan lantai selama beberapa hari pada tahun baru Imlek. Biasanya perilaku ini dilakukan selama lima hari.

Sebab mereka meyakini dengan menyapu lantai, membuang air, dan membuang sampah dari rumah secara tradisional menandakan hilangnya keberuntungan dan kekayaan yang akan datang di tahun baru.

Meskipun kebiasaan ini jarang terlihat di kota-kota saat ini, namun ternyata masih dipraktikkan di beberapa desa pedesaan Tionghoa.