Ini Jamur Cordyceps Yang Muncul Di Serial The Last Of Us


Warning: Undefined array key "tie_hide_meta" in /home/u992852709/domains/allaeps.com/public_html/wp-content/themes/sahifa/framework/parts/meta-post.php on line 3

Warning: Trying to access array offset on value of type null in /home/u992852709/domains/allaeps.com/public_html/wp-content/themes/sahifa/framework/parts/meta-post.php on line 3

Cordyceps sedang banyak dibicarakan di Indonesia. Pasalnya, istilah yang satu ini muncul di serial The Last of Us HBO, sebagai sumber infeksi global yang nyaris meruntuhkan peradaban manusia.

Di serial itu, diketahui bahwa infeksi jamur Cordyceps pertama kali ditemukan di Indonesia, di mana profesor mikologi bernama Ratna (diperankan Christine Hakim), menyerah membuat obat atau vaksin untuk menanganinya.

Alih-alih, profesor Universitas Indonesia fiktif itu meminta mencegah penyebarannya penyakit itu secara lebih luas dengan cara meledakkan kota.

Meski begitu, ternyata ada perbedaan asal usul Cordyceps dalam serial HBO ini, dengan Cordyceps yang berada dalam game The Last of Us, sebagai sumber adaptasi serialnya.

Mengutip Screenrant, Jumat (27/1/2023), dalam game asli The Last of Us, infeksi Cordyceps memang bermula dengan cara yang serupa.

Di sebuah surat kabar yang bisa ditemukan di rumah Joel dan Sarah di bagian pembuka game, terlihat bahwa strain Cordyceps mulai menginfeksi manusia melalui tanaman yang terinfeksi.

Tanaman ini memperlihatkan transfer jamur ke inang manusia, yang kemudian mulai merasakan efeknya, serta menyebarkannya ke manusia lain lewat gigitan.

Dalam cuplikan surat kabar, dijelaskan tanaman yang terinfeksi lalu ditarik di seluruh negeri. Disebutkan juga, produk yang terinfeksi meluas ke Amerika Tengah dan Meksiko, saat infeksi muncul di seluruh Amerika.

Selain itu, wabah di dalam game juga diperlihatkan terjadi sekitar September 2013, di mana wabah ini diperlihatkan secara berbeda waktunya di serial HBO.

Asal Usul Cordyceps Beda dari Game

Di versi serialnya, infeksi Cordyceps pertama kali ditemukan di Jakarta, Indonesia, sementara game-nya menyebut tanaman yang terinfeksi berasal dari Amerika Selatan yang kemudian menjadi episentrum asal infeksi.

Perubahan dari Amerika Selatan ke Asia mungkin terasa tidak penting. Namun, hal ini tampaknya masuk akal.

Jamur Cordyceps mutan sumber infeksi di dunia The Last of Us, sebenarnya terinspirasi dari jamur Cordyceps sungguhan, di mana di dunia nyata, mereka sebagian besar ditemukan di Asia.

Trending 🔥 :  Atletico Madrid Berhasil Bungkam Real Valladolid Dikandang

Mayoritas dari 600 spesies Cordyceps, dideskripsikan berasal dari benua Asia. Maka, lebih masuk akal infeksi otak dari tanaman itu berasal dari Jakarta ketimbang asal usul di game, yang berasal dari Amerika Selatan.

Sementara itu, kepada Variety, co-creator serial The Last of Us Craig Mazin, dan Neil Druckmann, baru-baru ini berbicara mengenai beberapa hal terkait asal usul infeksi dari Jakarta.

Alasan Bikin Adegan di Jakarta

Menurut Mazin, salah satu yang sering dibicarakan adalah bagaimana dalam game, perspektif pemain benar-benar terhubung dengan Joel atau Ellie, tergantung siapa yang dimainkan.

Menurutnya, mereka tidak memiliki itu dalam serial. Jadi, diputuskan pertanyaannya adalah, “Seperti apa dunia ini?”

“Awalnya, kami akan memiliki lebih banyak pandangan internasional tentang berbagai hal, tetapi saya pikir ke mana kami pergi adalah hanya berbicara tentang dari mana itu dimulai, dan menempatkan orang-orang dalam sains sebaik mungkin,” kata Mazin.

Salah satu yang ditanyakan Variety adalah seputar teori mengenai penyebaran jamur dengan tepung terkontaminasi, di mana tepung tersebut berasal dari Jakarta, tempat salah satu pabrik tepung terigu terbesar di dunia.

Pertanyaan Variety menyebutkan, di episode pertama, beberapa orang memperhatikan bahwa Joel dan Sarah menghindari makan makanan dengan tepung di dalamnya, seperti kue ulang tahun, pancake, dan biskuit.

“Ketika dia berbicara tentang di mana orang-orang ini bekerja dan apa yang terjadi di pabrik itu – ya, cukup jelas itulah yang terjadi,” ujarnya.

Mazin dan Druckmann mengatakan bahwa mereka menyukai gagasan sains itu, dan berusaha sebaik mungkin untuk memastikan bahwa semua penelitian mereka terhubung.

“(Ahli mikologi) bertanya di mana itu terjadi, dan pria itu mengatakan sebuah pabrik tepung di sisi barat kota,” kata Mazin.

“Kami benar-benar berbicara tentang itu — ada pabrik tepung terigu terbesar di dunia di Jakarta — jadi itu teori yang bagus dan saya pikir orang harus terus menjalankannya,” imbuhnya.