Depo Pertamina Plumpang Dikenal Sebagai Tempat Pemasokan BBM Untuk Kebutuhan Dalam Negeri

Pada Jumat malam 3 Maret 2023, pukul 20.11 WIB, terjadi kebakaran di Depo Pertamina Prangpang, Jakarta Utara. Kejadian bermula saat terjadi kebakaran pipa BBM atau BBM di komplek tersebut dan api menjalar ke rumah warga di Jalan Thana Melabawa RT 12 RW 09, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Baru pada pukul 3 pagi keesokan harinya, Sabtu, 4 Maret 2023, api baru benar-benar berhasil dipadamkan dan petugas pemadam kebakaran masih melakukan proses pendinginan. Rumah-rumah warga di sekitar depo kini tinggal tersisa puing-puingnya. Sejumlah kendaraan juga hangus terbakar.

Profil Depo Pertamina Plumpang

Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang atau Depo Pertamina Plumpang sejatinya telah beroperasi sejak 1974 silam. Dalam laman resminya. Pertamina menyebut Depo Pertamina Plumpang sebagai terminal BBM terpenting di Indonesia. Pasalnya, TBBM ini memasok 20 persen pasokan BBM harian di Indonesia atau 25 persen dari total kebutuhan harian SPBU Pertamina.

Depo Pertamina Plumpang berdiri di atas lahan seluas 48,35 heltare. Pertamina menyebut varian yang disalurkan depo tersebut sangat lengkap, meliputi Premium, Bio Solar, Dex, Dexlite, Pertamax, Pertalite dan Pertamax Turbo. Penyaluran dilakukan melalui Terminal Automation System (TAS) berkelas dunia yang biasa disebut New Gantry System ke kompartemen 249 unit mobil tangki.

Pertamina mengklaim waktu pengisian BBM di terminal ini lebih cepat dibandingkan yang lainnya, yakni 2.200 liter per menit. Depo Pertamina Plumpang juga memiliki bangsal pengisian yang compact dan multiproduk, sehingga dapat melayani pengisian mobil tangki untuk beberapa jenis produk secara bersamaan.

Terminal BBM ini juga diilengkapi dengan sarana inline blending, sehingga menurut Pertamina, produk yang dihasilkan Depo Pertamina Plumpang lebih homogen dan terjamin kualitasnya.

Pertamina mengklaim terminal tersebut lebih aman karena memiliki sistem interlock pada proses pengisian BBM untuk mencegah terjadinya tumpahan BBM akibat kegagalan saat pengisian, mencegah terjadinya kebakaran serta mencegah kesalahan dalam proses pengisian BBM,” kata Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur Pertamina saat itu, Gandhi Sriwidodo.

Trending 🔥 :  Prediksi Jelang Laga Leicester Vs Brighton

Hal tersebut disampaikan Gandhi pada acara Peresmian Implementasi VRU TBBM Plumpang dalam keterangan resmi pada 8 Mei 2018 lalu.

Ia menyebut sistem yang dimiliki Depo Pertamina Plumpang meniadakan operator pengisian dan menghilangkan kesalahan pencatatan akibat human error operator. Selain itu, Depo Plumpang juga memiliki sistem perpipaan overhead sehingga memudahkan dalam pemeliharaan dan modifikasi.

Pernah dapat penghargaan The Most Efficient Storage

Depo Pertamina Plumpang juga memiliki sistem monitoring dan pengawasan yang redundant untuk menghindari adanya kegagalan operasi dengan menjamin sistem dapat bekerja 24 jam. Bahkan, Terminal BBM ini pun mendapatkan penghargaan 2nd Global Tank Storage Award 2018 dalam kategori The Most Efficient Storage Terminal kedua, setelah Saudi Aramco Terminals.

Kejadian kebakaran semalam sebetulnya juga pernah terjadi di tempat yang sama pada 14 tahun silam. Tepatnya, Depo Pertamina Plumpang juga pernah terbakar pada 18 Januari 2009 sekitar pukul 21.30 WIB. Kebakaran terjadi setelah adanya ledakan di tangki 24 saat sedang dilakukan pengujian tangki.

Kala itu, ledakan terjadi akibat kegagalan pengamanan tangki. Pertamina menyatakan kebakaran tersebut disebabkan kesalahan manusia atau human error. Pasalnya, saat itu setiap tangki sudah dilengkapi dengan sistem pengamanan di antaranya release valve, alat di atap tangki untuk mengeluarkan tekanan berlebih di dalam tangki.

Tangki juga dilengkapi sprinkle atau penyemprot air ke seluruh dinding bagian luar tangki dalam keadaan darurat. Selain itu ada pula saluran foam, sehingga kalau terjadi kebakaran disemburkan busa ke dalam.

Dalam kejadian kebakaran di Depo Pertamina Plumpang pada 2009 tersebut, diperkirakan ada tiga ribu kilo liter premium yang terbuang. Sehingga dengan perhitungan Rp 5.000 per liter, total kerugiannya mencapai Rp 15 miliar.