Bisakah Sekalian Ganti Puasa Ramadhan? Berikut Niat Bacaan Puasa Nisfu Syaban


Warning: Undefined array key "tie_hide_meta" in /home/u992852709/domains/allaeps.com/public_html/wp-content/themes/sahifa/framework/parts/meta-post.php on line 3

Warning: Trying to access array offset on value of type null in /home/u992852709/domains/allaeps.com/public_html/wp-content/themes/sahifa/framework/parts/meta-post.php on line 3

Niat puasa Nisfu Syaban wajib dilafalkan umat saat hendak melaksanakannya. Namun, bisakah kita membayar utang puasa setelah memasuki malam Nisfu Syaban?
Melansir laman resmi NU Online, seseorang bertanya bahwa sahabatnya baru saja ingat dirinya memiliki utang puasa yang harus diqadha setelah memasuki malam nisfu Syaban. Penanya itu kemudian meminta penjelasan apakah boleh mengejar qadha puasa hingga Ramadhan tiba?

Utang puasa harus dibayar karena itu adalah hak Allah meskipun manfaatnya kembali kepada manusia, bukan kepada Allah. Adapun terkait puasa setelah memasuki nisfu Syaban atau pertengahan bulan Syaban, beberapa ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama mengharamkan puasa pada pertengahan bulan Syaban hingga Ramadhan tiba.

Hal itu berdasar pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yakni:

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إذا انتصف شعبان فلا تصوموا

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila hari memasuki pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa,'” HR Abu Dawud. Sementara ulama yang membolehkan puasa pada pertengahan bulan Sya’ban juga bersandar pada hadits riwayat Ummu Salamah dan Ibnu Umar RA yang ditahqiq oleh At-Thahawi.

Perbedaan pendapat dan argumentasi masing-masing ulama ini diangkat oleh Ibnu Rusyd sebagai berikut:

وأما صيام النصف الآخر من شعبان فإن قوما كرهوه وقوما أجازوه. فمن كرهوه فلما روي من أنه عليه الصلاة والسلام قال: لا صوم بعد النصف من شعبان حتى رمضان. ومن أجازه فلما روي عن أم سلمة قالت: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم صام شهرين متتابعين إلا شعبان ورمضان، ولما روي عن ابن عمر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرن شعبان برمضان. وهذه الآثار خرجها الطحاوي

Artinya, “Adapun mengenai puasa di paruh kedua bulan Sya’ban, para ulama berbeda pendapat. Sekelompok menyatakan, makruh. Sementara sebagian lainnya, boleh. Mereka yang menyatakan ‘makruh’ mendasarkan pernyataannya pada hadits Rasulullah SAW, ‘Tidak ada puasa setelah pertengahan Sya’ban hingga masuk Ramadhan.’ Sementara ulama yang membolehkan berdasar pada hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah RA dan Ibnu Umar RA. Menurut Salamah, ‘Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali puasa Sya’ban dan Ramadhan.’ Ibnu Umar RA menyatakan, Rasulullah SAW menyambung puasa Sya’ban dengan puasa Ramadhan. Hadits ini ditakhrij oleh At-Thahawi,” (Lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid fi Nihayatil Muqtashid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2013 M/1434 H], cetakan kelima, halaman 287).

Berikut adalah niat puasa sunnah Nifsu Syaban

Niat Puasa Nisfu Syaban Malam Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Sya’bana lillâhi ta’âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Sya’ban esok hari karena Allah SWT.”

Orang yang ingin berpuasa Sya’ban di siang hari tetapi tidak sempat melafalkan niat dan berniat puasa di malam harinya boleh menyusul pelafalan niat dan memansang niat sunah puasa Sya’ban seketika itu juga. Kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib. Untuk puasa sunah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Niat Puasa Syaban Siang Hari

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Sya’bana lillâhi ta’âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Sya’ban hari ini karena Allah SWT.”

Sementara terkait dengan utang puasa, umat muslim disarankan sebaiknya meng-qadha puasa sesegera mungkin meskipun setelah pertengahan bulan Syaban. Mereka yang memiliki utang puasa disarankan untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk mengqadhanya selagi Ramadhan belum tiba, tetapi juga selagi diberi kesempatan usia.

Trending 🔥 :  Borneo FC Vs Persija Jakarta : Macan Kemayoran Tumbang

Pada bulan-bulan istimewa, seperti bulan Rajab, Syaban, Muharram dan Dzulhijjah, kaum muslimin biasa meningkatkan ibadah mereka. Hal itu dengan harapan mendapatkan pahala yang berlipat ganda sebagai fadilah dari bulan tersebut.

Sementara dalam hal puasa, sering kali orang-orang menjadikan puasa sunnah pada bulan-bulan ini sebagai kesempatan untuk melaksanakan qadha’ puasa Ramadhan sekaligus. Artinya, selain niat untuk berpuasa sunnah juga niat qadha puasa Ramadhan yang hukumnya wajib. Hal ini dalam istilah fiqih disebut sebagai at-tasyriik fin niyyah atau mengkombinasikan niat.

Kriteria Penggabungan Niat Puasa Fardhu dan Sunnah

Dalam permasalahan penggabungan niat antara yang fardhu dan yang sunnah dalam satu ibadah, Imam Suyuthi dalam kitabnya al-Asbah wan Nadhair membagi dalam empat kriteria.

Kriteria pertama, sah kedua-keduanya baik yang fardhu dan yang sunnah. Kedua, sah bagi ibadah fardhunya saja, tidak untuk ibadah sunnahnya. Kemudian yang ketiga adalah sah bagi ibadah sunnahnya saja, tidak untuk ibadah fardhunya. Sementara yang keempat, tidak sah kedua-duanya.

Pertama; kedua-duanya baik yang fardhu maupun yang sunnah dianggap sah. Contoh, ketika seseorang masuk masjid dan jemaah telah dimulai, kemudian dia niat shalat fardlu dan sekaligus berniat shalat tahiyyatul masjid. Maka Menurut mazhab Syafii keduanya sah dan mendapatkan pahala.

Begitu juga seseorang yang mandi junub hari Jumat dengan mandi sunnah Jum’at sekaligus. Termasuk dalam hal ini juga adalah mengucap salam di ujung shalat sebagai tanda selesainya shalat dan juga sekaligus mengucap salam untuk tamu yang baru masuk rumah.

Begitu keterangan Imam Suyuthi: فمن الأول (مالايقتضى البطلان فى الكل) أحرم بصلاة وينوى بها الفرض والتحية صحت وحصلا معا…ومنها نوى بغسله غسل الجنابة والجمعة حصلا جميعا على الصحيح…ومنها نوى بسلامة الخروج من الصلاة والسلام على الحاضرين حصلا Hukum kedua yang dianggap sah adalah yang fardlu saja. Contoh orang yang melaksanakan ibadah haji untuk pertama kali, tetapi ia berniat haji wajib dan sekaligus berniat haji sunnah. Secara otomatis yang dianggap sah adalah yang wajib. ومن الثانى (مايحصل الفرض فقط) نوى بحجة الفرض والتطوع وقع فرضا لأنه لو نوى التطوع انصرف إلى الفرض

Hukum ketiga adalah hukum sunnah yang dianggap sah, seperti seseorang memberi uang kepada fakir miskin dengan niat zakat wajib dan sekaligus niat bersedekah, maka yang dianggap sah adalah sedekahnya bukan zakatnya. ومن الثالث (مايحصل النفل فقط) أخرج خمسة دراهم ونوى بها الزكاة وصدقة التطوع لم تقع زكاة ووقعت التطوع بلاخلاف.

Hukum yang keempat adalah batal kedua-duanya, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Misalnya seseorang yang hendak shalat dengan niat shalat fardhu sekaligus juga shalat sunnah rawatib. Maka keduanya tidak sama-sama tidak disahkan. ومن الرابع (مايقتضى البطلان فى الكل) نوى بصلاته الفرض الفرض والراتبة لم تنعقد أصلا

Adapun menggabung antara niat sunnah puasa bulan Sya’ban sekaligus niat membayar qadha’ puasa Ramadhan maka dapat diqiyaskan kedalam hukum yang pertama, yaitu dianggap sah kedua-duanya. Berdasar pada keterangan al-Suyuthi ومنها (أى من الأول) صيام يوم عرفة مثلا قضاء أونذرا أو كفارة ونوى معه الصوم غير عرفة فأفتى البارزى بالصحة والحصول عنهما

Namun sebagian ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Ada yang mengatakan yang dianggap sah adalah puasa qadha Ramadhan dan puasa sunnahnya tidak sah dan memasukkannya dalam kelompok kedua. Ada pula ulama yang mengatakan sah puasa sunnahnya dan hutangnya belum gugur sebagaimana kategori ketiga.

Bahkan ada yang mengatakan tidak sah keduanya dan amalnya sia-sia seperti kategori keempat. Demikianlah keterangan beberapa hukum menggabungkan dua niat dalam satu ibadah. Tapi jika mempertimbangkan kehati-hatian lebih baik memisahkan keduanya. Wallahu a’lam bis showab.